Manuver Plt Bupati HSU Soal Pasar Alabio, Prof Denny: Ada yang Tidak Beres Tahanan Tewas Banjarmasin, IPW Desak Pertanggungjawaban Dua Tingkat Buntut Tahanan Tewas, Anggota Polresta Banjarmasin Diperiksa! Siap-Siap! Beli Migor Curah di Banjarmasin Pakai PeduliLindungi Kuras Sumur, Semburan Gas yang Muncul di Manggar Balikpapan

Dalam RUU KIA, Muncul Usulan Ayah Dapat Cuti 40 Hari

- Apahabar.com     Senin, 20 Juni 2022 - 07:44 WITA

Dalam RUU KIA, Muncul Usulan Ayah Dapat Cuti 40 Hari

DPR RI sedang membahas RUU KIA yang salah satunya membahas izin cuti untuk ayah dan ibu pekerja. Foto: Antara

apahabar.com, JAKARTA – Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) ternyata tak hanya mengusulkan cuti 6 bulan untuk ibu yang melahirkan. Juga terselip usulan cuti 40 untuk sang ayah.

Diketahui referensi RUU KIA adalah Pasal 28A, 28 B, 20 dan 21 UUD 45, serta UU No4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak.

Lalu UU No. 12 Tahun 2017 tentang Konvensi Asean Menentang Perdagangan Perempuan dan Anak, UU tentang Pemerintahan Daerah, UU tentang Kesejahteraan Sosial, UU tentang Kesehatan, UU tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) dan UU Ketenagakerjaan.

“Kami memang sedikit banyak banyak melakukan pendalaman yang terkait UU Ketenagakerjaan dengan RUU KIA,” papar inisiator RUU KIA dari Fraksi PKB, Luluk Nur Hamidah, dalam webinar bertajuk ‘Cuti Melahirkan 6 Bulan’ yang dikutip, Senin (20/6).

RUU KIA mengatur secara eksplisit hak cuti bagi melahirkan selama 6 bulan dengan gaji penuh di 3 bulan pertama, serta 75 persen gaji di 3 bulan terakhir.

Juga soal paternal leave atau cuti untuk ayah selama 40 hari. Ini belum diatur dalam UU Ketenagakerjaan, kecuali hanya cuti 2 hari untuk suami dari istri yang melahirkan dan tetap dibayar.

“Sementara dalam RUU KIA, cuti untuk suami dari istri yang melahirkan diberikan hak 40 hari,” imbuh Luluk.

Sementara ibu yang keguguran juga punya hak untuk mendapatkan cuti atau istirahat selama 1,5 bulan. Sedangkan sang suami berhak mendampingi istri yang keguguran selama 7 hari.

“Kami meyakini RUU KIA dapat memutus bias dan diskriminasi bahwa hanya perempuan yang bertanggung jawab dalam kondisi apapun terkait kehamilan, menyusui, pengasuhan dan perawatan anak,” tegas Luluk.

Bukan Hal Baru

Sementara Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Rahayu Saraswati, menyebut ketentuan itu bukan hal baru. Seperti Taiwan yang menerapkan cuti 6 bulan untuk ayah dan ibu baru.

Lalu Norwegia menerapkan cuti 1 tahun untuk ibu dan ayah, dengan ketentuan si ayah mengambil minimal 1 bulan dari jatah 1 tahun itu.

“Namun perlu ditegaskan bahwa pemberian cuti melahirkan ini bukan untuk memberikan kesempatan warga punya anak sebanyak-banyaknya,” papar Rahayu Saraswati.

Di sisi lain, Ketua DPR Puan Maharani meminta dukungan masyarakat dalam merealisasikan RUU KIA yang sedang dibahas bersama pemerintah.

“3 bulan memang cukup. Namun kalau bisa 6 bulan, kenapa tidak? Dalam 3 bulan terakhir, mungkin saja sang ibu masih bisa WFH sehingga tetap mengurus anak,” sahut Puan.

Editor: Bastian Alkaf - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Pasar Alabio

News

Instruksi Plt Bupati HSU: Eksekusi Perkara Pasar Alabio!
tarawih perdana

News

Melihat Tarawih Perdana di Masjid Terbesar Kalsel, Penuh-Sesak hingga 20 Rakaat
gelombang panas

News

Waspada! Dunia Hadapi Pemanasan 1,5 Derajat Celcius hingga 5 Tahun ke Depan
PLN Tala

News

Bangun Infrastruktur Kalsel, PLN Sulap Limbah Batu Bara PLTU Asam-Asam
Konflik

News

Konflik Rusia-Ukraina, Apa Kabar 145 WNI?

News

Korban Tewas Akibat Gempa Afghanistan Bertambah Menjadi 1.150 Orang

News

Minyak Goreng Langka, Polri Belum Temukan Pelanggaran Pidana
Herry Wirawan

News

Tok! Hakim PT Bandung Vonis Mati Herry Wirawan
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com