Besok, Dua Wakil Kalsel Siap Bertugas Jadi Anggota Paskibraka Nasional Selain Carens, Kendaraan Listrik Jadi Bintang Kia di GIIAS 2022 Kemenhub Terbitkan Empat Surat Edaran Syarat Perjalanan Terbaru Divonis 8 Tahun Penjara, Wahid Dibebaskan dari Ganti Rugi Rp26 Miliar  Apkasi Ajak Perusahaan Barang Jasa Rebut Peluang Pengadaan di Pemda Melalui APN 2022
agustus

Berpotensi Alami Resesi Sebesar 3 Persen, Bagaimana Sejarah Resesi di Indonesia?

Sebelumnya Indonesia sudah mengalami tiga kali resesi yaitu pada tahun 2020 di saat pandemi Covid-19 berlangsung, kemudian 2008 dan yang terburuk pada tahun 1998.
- Apahabar.com     Sabtu, 23 Juli 2022 - 17:53 WITA

Berpotensi Alami Resesi Sebesar 3 Persen, Bagaimana Sejarah Resesi di Indonesia?

Warga Sri Lanka melakukan demonstrasi dalam rangka menuntut Presiden Gotabaya Rajapaksa untuk segera mengundurkan diri. Foto: Reuters

apahabar.com, JAKARTA – Berdasarkan survey terbaru yang dikeluarkan oleh Bloomberg, Indonesia dinilai berpotensi mengalami resesi sekitar 3 persen jauh lebih baik dibandingkan negara lain seperti Sri lanka dengan potensi resesi sebesar 85 persen, New Zealand sekitar 33 Persen dan Jepang sekitar 25 persen.

Peneliti Center of Economic and Law Studies (Celios) Muhammad Andri Perdana mengingatkan bahwa sebelumnya Indonesia sudah mengalami tiga kali resesi yaitu pada tahun 2020 di saat pandemi Covid-19 berlangsung, kemudian 2008 dan yang terburuk pada tahun 1998.

“Ekonomi Indonesia sebelum 1998 digemborkan sangat tangguh bersama Korea Selatan dan Thailand. Kondisi itulah yang membuat Indonesia lupa terhadap fundamental ekonomi nasional yang belum diketahui kuat atau tidak dalam menghadapi guncangan,” katanya kepada apahabar.com, Sabtu (23/7/2022).

Dia menambahkan sudah seharusnya Indonesia belajar dari sejarah agar tidak menganggap remeh resiko resesi, terlebih diperkirakan dalam waktu dekat akan terjadi kondisi resesi global dan tentunya memiliki kondisi fundamental yang berbeda dengan resesi di tahun 1998 dan 2008.

“Jangan sampai Indonesia mengemborkan ketangguhan ekonomi dan menebarkan pujian sana-sini namun pada akhirnya malah menyebabkan permasalahan ekonomi yang semestinya dapat dicegah,” katanya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menerima kedatangan Direktur Pelaksana IMF di Istana Bogor, Minggu (17/7/2022). Dalam kesempatan tersebut Jokowi melalui Menteri Koordinator Bidang Perekenomian, Airlangga Hartanto menyebut kondisi perekonomian Indonesia dalam keadaan baik.

“Inflasi sekitar 4,2 persen dan pertumbuhan ekonomi 5,01 persen. Termasuk dept to GDP mencapai rasio 42 persen,” ujar Airlangga. (Thomas)

Editor: Bethriq Kindy Arrazy - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Demo DPRD Kalsel Sempat Ricuh, 3 Polisi Dilarikan ke Ambulans

Nasional

Jokowi Tinjau Pascabanjir, Pemkab HST Siap-Siap
apahabar.com

Nasional

Di Merapi, Presiden Jokowi Lepas Dua Elang Jawa
Aurel

Nasional

Aurel dan Atta Halilintar Gagal Menikah?

Nasional

Breaking, Ternate Diguncang Gempa Magnitudo 6,1
apahabar.com

Nasional

MHM Ingin Karyawan UMKM Kena PHK Diikutsertakan Program Kartu Prakerja

Nasional

Kurangi Ketergantungan pada Konsumsi, Presiden Jokowi Dorong Hilirisasi untuk Industrialisasi
Polisi

Nasional

Syaifullah Tamliha Klarifikasi Penggunaan Jet Pribadi Ketum di Konsolidasi Internal PPP
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com