Aksi Ciamik Pereli Kalsel di Kejurnas Danau Toba Rally 2022, Rifat Sungkar Tercecer IPW Desak Kapolda Kalsel Copot AKBP AB Dkk Liburland Festival di Banjarbaru, Isyana Sarasvati Pikat Ribuan Pengunjung Breaking! Toko Pecah Belah di Palangka Raya Terbakar Aksi Dugaan Perampasan, 3 Polisi Kalsel Berhadapan dengan Propam
agustus

Indef Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Negara Kawasan Asia Pasifik Menurun Pasca Pandemi

Tauhid mengungkapkan ketimpangan tersebut berkaitan langsung saat fase pemulihan ekonomi, khususnya dalam hal aksesibilitas vaksin di negara masing-masing.
- Apahabar.com     Rabu, 13 Juli 2022 - 21:30 WITA

Indef Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Negara Kawasan Asia Pasifik Menurun Pasca Pandemi

Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad menyampaikan kondisi perekonomian negara kawasan Asia Pasific. Foto: Apahabar.com

Apahabar.com, JAKARTA – Direktur Utama Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad mengatakan negara kawasan Asia Pasifik yang sempat mengalami pertumbuhan ekonomi di masa pandemi sebesar 5,7 persen. Meski begitu, ke depan diprediksi akan mengalami penurunan hampir setengahnya yakni sebesar 2,9 persen.

“Implikasi sebagian negara akan berbeda di wilayah asia pasifik salah satunya ketimpangan beragam parameter sosial ekonomi maupun dimensi lainnya,” katanya Diskusi Publik: Mengurai Ketimpangan di Indonesia dan Asia Pasifik Pasca Covid-19, di Swiss-Balresidences Kalibata, Jakarta, Rabu (13/7/2022).

Tauhid mengungkapkan ketimpangan tersebut berkaitan langsung saat fase pemulihan ekonomi, khususnya dalam hal aksesibilitas vaksin di negara masing-masing. Hal tersebut disebabkan aksesibilitas vaksin bersinggungan langsung dengan kapasitas keuangan negara yang sebagian besar dilakukan dengan cara membeli vaksin di negara produsen vaksin.

Pembelian vaksin tersebut, menurut Tauhid, juga ditentukan dengan dukungan fiskal negara terkait. Salah satunya Indonesia yang memungkinkan terjadinya ancaman besar yang disebabkan oleh penambahan hutang.

“Kita cukup beruntung meskipun mungkin potensi gagal bayar cukup panjang. Dan kita tidak inginkan hal itu terjadi,” ujarnya.

Dalam situasi tersebut, Tauhid mengkhwatirkan akan terjadi keterlambatan otoritas moneter dengan cara melakukan pengetatan wajib giro minimum menjadi tidak cukup. Sehingga hal tersebut mengakibatkan terjadinya inflasi yang menyebabkan masyarakat miskin semakin jatuh ke dalam jurang kemiskinan.

“Pertumbuhan ekonomi justru dinikmati oleh masyarakat kelas ekonomi menengah ke atas. Ini yang membuat ketimpangan semakin melebar,” pungkasnya.

Editor: Bethriq Kindy Arrazy - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Tak Berkategori

Cerita Pilu Korban Kebakaran Belakang Pasar Hanyar, Kebingungan Mencari Tempat Tidur Malam Ini
Pemkab HSS

Tak Berkategori

Pemkab HSS Kumpulkan Ujung Tombak Percepatan Pembangunan Kesejahteraan Sosial

Nasional

BPP HIPMI Gelar Vaksinasi di Gresik, Sediakan 10.000 Vaksin
apahabar.com

Nasional

Mutilasi Warga dan Tembak Polisi, Ali Kalora Cs Diburu Satgas Tinombala
apahabar.com

Tak Berkategori

Tak Ingin Terkena Covid-19? Ikuti 5 Langkah Ini
PPKM Level IV

Nasional

Resmi, Jokowi Perpanjang PPKM Level IV hingga 2 Agustus

Tak Berkategori

Rangka Besi Bongkaran Reklame Menjuntai ke Jalan, Pengendara di A Yani Banjarmasin Resah
apahabar.com

Nasional

Contact Center PLN Raih 22 Penghargaan di Ajang The Best Contact Center Indonesia
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com