Besok, Dua Wakil Kalsel Siap Bertugas Jadi Anggota Paskibraka Nasional Selain Carens, Kendaraan Listrik Jadi Bintang Kia di GIIAS 2022 Kemenhub Terbitkan Empat Surat Edaran Syarat Perjalanan Terbaru Divonis 8 Tahun Penjara, Wahid Dibebaskan dari Ganti Rugi Rp26 Miliar  Apkasi Ajak Perusahaan Barang Jasa Rebut Peluang Pengadaan di Pemda Melalui APN 2022
agustus

Kesalahan Strategi Pembangunan menjadi Faktor Utama Terjadinya Krisis di Sri Lanka

- Apahabar.com     Kamis, 21 Juli 2022 - 07:28 WITA

Kesalahan Strategi Pembangunan menjadi Faktor Utama Terjadinya Krisis di Sri Lanka

Sejumlah warga Sri Lanka mengalami kesulitan akses kebutuhan bahan bakar minyak. Foto: Liputan6

apahabar.com, JAKARTA – Sri Lanka menjadi salah satu negara yang akhirnya dinyatakan bangkrut setelah tidak mampu membayar utang luar negri (ULN) mereka sebesar 51 miliar U$D atau setara dengan Rp732 triliun.

Wakil Direktur Eksekutif INDEF, Eko Listyanto melihat bahwa faktor utama yang membuat Sri lanka bisa masuk ke situasi krisis sekarang adalah kesalahan strategi pembangunan.

Menurut Eko Sri Lanka di bawah rezim Presiden Gotabaya Rajapaksa beserta kroninya terlalu mengandalkan pariwisata sebagai sektor utama pendapatan. Karena itu, Sri Lanka berupaya untuk membangun infrastruktur untuk menunjang pariwisata yang sumber pendanaannya berasal dari utang luar negeri.

“Pembangunannya terjadi infrastrukturnya ada tiba tiba kemudian terjadilah pandemi. Walaupun sebelum pandemi juga belum laku ya karena tidak cukup bangun infrastruktur kalau pariwisata,” ujarnya kepada Apabahar.com di Jakarta, Rabu (20/7/2022).

Dia juga menambahkan kalau Sri Lanka kurang mampu melakukan promosi pariwisata yang sejak awal juga disebabkan oleh ketersediaan minimnya anggaran promosi. Hal tersebut ditambah dengan adanya pandemi, membuat pariwisata tidak tumbuh. Sehingga penerbangan menuju ke sana juga sedikit. Dengan begitu, utang yang dipakai untuk membangun infstruktur tersebut tidak dapat dibayarkan hingga jatuh tempo.

Saat ini cadangan devisa Sri Lanka semakin menipis. Akibatnya, imbuh Eko, pemerintah Sri Lanka sudah tidak bisa menyediakan bahan pokok bagi masyarakat. Ditambah rasio utang juga sudah di atas 100 persen yang membuat negara Sri Lanka sulit untuk mendapat pinjaman lagi.

“Ketergantungan impor Sri Lanka juga tinggi dari negara lain. Sehingga kemudian kebutuhan barang dan energi dan lainnya itu berasal dari negara lain yang itu kemudian tidak bisa dibeli karena ya cadangan devisanya tidak ada,” tutupnya. (Thomas)

 

 

Editor: Bethriq Kindy Arrazy - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Polisi Jadi Kontroversi

Nasional

Polisi Jadi Kontroversi, Kapolri Minta Anggotanya Jaga Emosi
Pegawai KPK

Nasional

Firli Bantah Pecat 75 Pegawai KPK Tak Lolos Tes ASN
apahabar.com

Nasional

Hong Kong Laporkan Kematian Pertama Akibat Virus Corona
apahabar.com

Nasional

Draf RUU Omnibus Law, Presiden Jokowi Target Beres Pekan Ini
Mahkamah Konstitusi

Nasional

Sidang Pileg, Hakim MK Minta Pemohon Pahami Permohonannya
Kemenkes: PSBB Depok, Bogor, Bekasi Sudah Disetujui

Nasional

Kemenkes: PSBB Depok, Bogor, Bekasi Sudah Disetujui

Nasional

Mahasiswa RI Dikabarkan Kerja Paksa di Taiwan, DPR Minta Kemlu Turun Tangan
BLT

Nasional

BLT Subsidi Gaji Diusulkan Rp5 Juta, Ketahui Syarat Penerimanya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com