Amuk Jago Merah di Balikpapan Hanguskan Rumah hingga Motor Pekerja Lokal Bakal Tertinggal, Rocky Gerung: Negara Lain Take Off, Kita Sibuk Bertengkar soal Polisi Papua Bukan Daerah Operasi Militer, Imparsial: Kenapa Tentara yang Maju?   Terombang-ambing di Selat Makassar, Pria Sulawesi Berhasil Selamat Yang Perlu Diperhatikan Setelah Banjir Hantakan Renggut Nyawa Balita
agustus

Krisis Perubahan Iklim, Transportasi Menyumbang 24 Persen Emisi Karbon

- Apahabar.com     Sabtu, 30 Juli 2022 - 14:06 WITA

Krisis Perubahan Iklim, Transportasi Menyumbang 24 Persen Emisi Karbon

Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sigit Reliantoro. Foto: Apahabar.com

apahabar.com, JAKARTA – Polusi menjadi salah satu krisis yang sedang mengancam keselamatan lingkungan. Salah satunya transportasi sebagai penyumbang polusi dianggap dapat menyebabkan masalah perubahan iklim.

Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sigit Reliantoro mengatakan sejak 2018, transportasi berkontribusi terhadap 24 persen emisi rumah kaca secara global. Adapun pada 2020 mengalami penurunan akibat pandemi Covid-19 dengan angka 7,2 giga town CO2.

“Konsep tahun 2050, semua sistem energi itu harus tidak mengeluarkan sebuah CO2 lagi artinya net zero emision di tahun 2050 untuk mencapai itu maka di tahun 2030 harus dikurangi menjadi 20 persen dan sektor transportasi itu atau dijaga 5,73 ton CO2,” ungkap Sigit dalam seminar di Jiexpo Kemayoran Jakarta Pusat, Jumat (29/7/2022).

Transportasi masuk kategori energi dalam perhitungan Green House Gas (GHG) atau Gas Rumah Kaca. Sejak 2018 transportasi meyumbang 24 persen dari total emisi GHG sektor energi. Tercatat pada tahun 2018 sebanyak 8 giga ton CO2, 2019 sebanyak 8,5 giga ton CO2, dan 2020 sebanyak 7,2 giga ton CO2.

“Di Indonesia kita belum memasukkan kendaraan listrik itu sebagai bagian dari Nasional Determine Contribusion (NDC) itu artinya adalah komitmen Pemerintah secara nasional untuk mengurangi gas rumah kaca,” ujarnya.

Sigit menambahkan terdapat kecenderungan peningkatan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di semua titik pemantauan kualitas udara di jakarta sejak tahun 2021. Ppeningkatan aktifitas ekonomi dan mobilitas penduduk menyebabkan pencemaran udara di beberapa titik pemantauan. Pencemaran CO2 di DKI Jakarta terlihat berasal dari daerah Jabodetabek.

“Semua merasakan debu sekarang di Jakarta banyak udara cepat sesak itu disebabkan oleh kontribusi kendaraan bermotor yang menggunakan bensin dan menggunakan solar,” terang Sigit.

Sigit memaparkan transportasi berkelanjutan yang dapat mengatasi perubahan iklim yaitu dengan menambah ruang terbuka hijau sehingga mendorong masyarakat untuk berjalan kaki.

Selain itu, juga diperlukan pengembangkan model mobilitas baru, yaitu kota yang lebih banyak membangun infrastruktur untuk mobil menjadi kota yang lebih banyak membangun infrastruktur untuk manusia dengan memprioritaskan transportasi umum, perjalan kaki dan pesepeda. (Resti)

Editor: Bethriq Kindy Arrazy - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

apahabar.com

Nasional

Program Tabur Berhasil Tangkap 180 Buron Selama 2018

Nasional

Dugaan Pelecehan Seks oleh Gofar Hilman, LPSK Terbuka Lindungi Korban
apahabar.com

Nasional

Presiden Jokowi Tandatangani PP Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi

Nasional

Dokter Ungkap Kondisi Terkini Anak Vanessa Angel
apahabar.com

Nasional

Sekardus Uang di OTT Bupati Mesuji Sekitar Rp 1 M
Gempa

Nasional

Tetap Waspada, Ada 32 Aktivitas Gempa Susulan di Sulawesi Barat

Nasional

Gunung Sinabung Karo Kembali Erupsi Disertai Guguran Awan Panas 2.500 Meter

Nasional

Penyanyi Senior Koes Hendratmo Meninggal Dunia
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com