Demonstrasi di DPRD Kalteng, Massa Protes Penertiban Tambang Emas Tradisional Tanpa Solusi Dugaan Penggelapan Mobil Rental, IRT Tabalong Terpaksa Diamankan Polisi Cuaca Kalsel Hari Ini: Seluruh Wilayah Berpotensi Hujan Ringan Teten Masduki Sebut Pengembangan Produk Kriya Perlu Libatkan Agregator IPW Desak Kapolda Kalsel Copot AKBP AB Dkk
agustus

Mengulik Buku Phang Yao Po, Benarkah Leluhur Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Cina?

- Apahabar.com     Kamis, 28 Juli 2022 - 00:14 WITA

Mengulik Buku Phang Yao Po, Benarkah Leluhur Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dari Cina?

Buku karangan Phang Yao Po yang memiliki sejumlah kisah sejarah. Salah satunya diyakini memuat silsilah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Foto: apahabar.com/Riyad Dafhi

apahabar.com, BANJARMASIN – Topik mengenai asal-usul dan zuriah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kelampayan semakin menarik diperbincangkan.

Terutama setelah seorang warga keturunan Cina di Banjarmasin, Sarwadharma, menyerahkan buku yang memuat tulisan tentang silsilah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Buku itu diserahkan kepada Pusat Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan Islam (Pusjibang-PI) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari, Rabu (27/7).

Dalam buku bersampul cokelat itu, dijelaskan bahwa leluhur Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari berasal dari negeri Cina.

Buku tersebut diketahui ditulis adik dari kakek Sarwadharma bernama Phang Yao Po yang meninggal pertengahan 1953.

“Kakek saya bernama Phang Yao Cong. Beliau memiliki adik Phang Yao Po yang kemudian menulis buku tersebut,” jelas Sarwadharma.

“Saya memandatkan buku tersebut kepada Pusjibang-PI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari hanya untuk diteliti. Saya tak memiliki maksud lain,” imbuhnya.

Setelah Phang Yao Po meninggal dunia, buku tersebut disimpan oleh sang atau bibi Sarwadharma yang menetap di kawasan RK Ilir Banjarmasin.

Kemudian medio 1973, kebakaran hebat terjadi di kawasan RK Ilir Banjarmasin. Bangunan rumah dan semua harta benda milik bibi Sarwadharma pun menjadi arang.

“Hanya kotak yang berisi buku itu tidak terbakar. Sebaliknya lemari berisi uang yang berada di samping kotak buku, malah habis terbakar,” cerita Sarwadharma.

Singkat cerita buku itu diwariskan kepada Sarwadharma yang merupakan keturunan paling tua. Mengingat historis dan kisah yang terkandung, Sarwadharma menganggap buku tersebut sangat berharga, sehingga harus disimpan di brankas bank.

“Awalnya saya tak berniat mengekspos buku tersebut. Namun belakangan saya berpikir mungkin bermanfaat. Bisa saja ini merupakan catatan sejarah yang bisa dipelajari, terutama untuk membina kerukunan,” tutur Sarwadharma.

Dalam buku berejaan lawas itu, dikisahkan bahwa leluhur Sarwadharma diundang ke Kerajaan Banjar untuk membuat ukiran istana.

Belakangan leluhur Sarwadharma menikah dengan warga lokal dan memiliki dua anak. Salah seorang dari anak itu kemudian melahirkan lagi dua anak.

“Salah seorang dari anak itu kemudian melahirkan Phang Ban Po dan Phang Ban Tian atau Panglima Minting,” jelas Sarwadharma.

Phang Ban Po merupakan leluhur Sarwadharma. Sementara Panglima Minting menjadi mualaf dan berganti nama menjadi Abdullah yang merupakan ayah dari Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

Adapun catatan sejarah umum, leluhur Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari berasal dari Arab atau Yaman. Silsilah ini merujuk Kitab Syajaratul Irsyadiah karangan Syekh Abdurrahmad Siddiq Al-Banjari yang diterbitkan 1953.

“Kedua pendapat diperkirakan seumur. Namun naskah dalam buku dari Sarwadharma memang pendapat yang unik dan berbeda,” sahut Fathullah Munadi, salah seorang peneliti Pusjibang-PI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari.

Pendapat Syekh Muhammad Arsyad memiliki keturunan dari Cina diyakini akan semakin kiat, apabila Phang Yao Po merujuk literasi lain yang lebih tua.

“Ini yang belum diketahui. Di sisi lain, Syekh Abdurrahman Siddiq Al-Banjari mengutip pendapat dari Syekh Abdullah Khatib,” beber Fathullah.

Terlepas dari pendapat yang berbeda, buku dari Sarwadharma membuat bahan kajian Pusjibang-PI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari bertambah lengkap.

“Langkah selanjutnya adalah meneliti fisik atai filologi, baru kemudian mempelajari teks atau tekstologi,” jelas Fathullah.

Sementara Ketua DPW Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kalsel, Winardi Sethiono, berharap pengkajian buku tersebut sedikit memperjelas silsilah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

“Mudah-mudahan hasil kajian yang dilakukan bisa bermanfaat untuk masyarakat banyak,” tandas Winardi.

Sarwadharma menyerahkan buku yang memuat tulisan tentang silsilah Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari kepada Pusjibang-PI Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Antasari. Foto: apahabar.com/Riyad Dafhi

Editor: Bastian Alkaf - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Jembatan

Hot Borneo

Jembatan HKSN Senilai Rp 64 Miliar Diresmikan Besok, Ini Penjelasan Wali Kota Banjarmasin
Tour de Loksado 2022

Hot Borneo

Ratusan Pesepeda Bersaing di Tour de Loksado 2022, Ada Atlet SEA Games!

Hot Borneo

IKATA Kalsel Berbagi ke Lokasi Banjir, Warga Martapura Senang Dapat Bantuan
Tanah Bumbu

Hot Borneo

Polisi Ciduk Dua Pemakai & Kurir Sabu di Tanah Bumbu
Bandara Syamsudin Noor

Hot Borneo

Bandara Internasional Syamsudin Noor Terpaksa Tambah Penerbangan
Dishub Banjarmasin

Hot Borneo

Aneh Gonggongan Anjing-DJ di Simpang Sutoyo Banjarmasin, Dishub Diretas?

Hot Borneo

Posisi Sejumlah Pejabat di Pemkot Banjarbaru Bergeser, Siapa Saja?
Perkelahian

Hot Borneo

Gegara Piutang, Dua Pria di Banjarmasin Adu Jotos
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com