Gerak Cepat Polres Batola Bongkar Komplotan Garong Lintas Daerah Kemenhub Intensifkan Kerjasama dengan Pemangku Kepentingan untuk Stabilkan Harga Tiket Pesawat Banjir Hantakan Renggut Nyawa Balita, Walhi Teringat Gugatan Warga Merasakan Sensasi Balapan Mobil Layaknya di Sirkuit Asli Pilihan AC Rumahan, Tinggal Klik Sejuknya Merata ke Seluruh Ruangan
agustus

Nilai Investasi Rendah jadi Penyebab Proyek EBT masih Jauh dari Target

- Apahabar.com     Jumat, 29 Juli 2022 - 23:29 WITA

Nilai Investasi Rendah jadi Penyebab Proyek EBT masih Jauh dari Target

Seorang pegawai melakukan pemeriksaan rutin Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Foto: Antara

apahabar.com, JAKARTA – Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai Indonesia tergolong lambat dalam mempercepat pembangunan proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) dalam bauran energi nasional. Pasalnya, Indonesia memiliki target EBT sebesar 23 persen di tahun 2025 dan 29 persen di tahun 2030.

Senior Researcher on Renewable Energy IESR Handriyanti Puspitarini mengatakan hal tersebut masih sulit dicapai karena proyek EBT masih dianggap sektor yang tidak menarik. Di sisi lain, Indonesia juga masih mengalami ketergantungan dengan bahan bakar fosil salah satunya batu bara.

“Sehingga alokasi dana untuk sektor tersebut jauh lebih besar dibandingkan sektor energi bersih. Selain itu sulitnya transisi ini juga disebabkan oleh beberapa hal seperti ketidakmampuan serta kurangnya dukungan pemerintah kepada pengembang EBT,” katanya dalam webinar The State of Southeast Asia Energy Transition, Jumat (29/7/2022).

Hal tersebut terlihat berdasarkan survei yang dilakukan IESR kepada para pengembang EBT, hasilnya sebesar 84 persen dari total pengembang mengatakan dana publik untuk mendukung transisi energi masih belum mencukupi.

Akibatnya, kata Handriyani, sektor investasi EBT di Indonesia membutuhkan kurang lebih Rp20-25 miliar per tahun untuk melakukaan dekarbonisasi hingga tahun 2030. Namun, dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, investasi EBT lebih rendah daripada investasi energi fosil.

“Masih dianggap sebagai sektor yang tidak menarik karena penerapan dari regulasi yang ada. Undang-undang energi baru terbarukan sudah dinanti sejak lama,” katanya.

Selain persoalan nilai investasi, perizinan proyek EBT cenderung membutuhkan waktu lama yang menyebabkan kompleksitas masalah mekanisme pengadaan. Meski begitu, demi mencapai target yang sudah ditetapkan Indonesia seharusnya dapat memanfaatkan banyak sumber dana seperti third financing, contensional financing, dan pajak karbon.

“Masih belum dimanfaatkan sepenuhnya. Berdasarkan survei kami kepada para pengembang energi terbarukan mereka berkata bahwa bank lokal belum menyediakan kredit untuk EBT. Termasuk bunganya masih sangat tinggi. Jadi bank setempat harus mampu mendukung proyek EBT ini,” pungkasnya. (Thomas)

Editor: Bethriq Kindy Arrazy - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

klx230

News

Kepoin Spek dan Harga Motor ‘Penggaruk Tanah’ Kawasaki New KLX230

News

Rusia Balas Beri Sanksi AS dan Eropa, Terkait Luar Angkasa
PKT

News

Raih Sertifikat Propernas dari KLHK, PKT Komitmen Tingkatkan Kinerja Lingkungan
Tips melibas tanjakan

News

Jangan Asal ‘Ngegas’, Ini Cara Aman Melibas Tanjakan dan Turunan Saat Mengendarai Skutik

News

Sandiaga Uno Dorong Dorong Peserta “AKI Jember” Tingkatkan Nilai Tambah Produk dengan Promosi Digital
PLTN Ukraina

News

Ukraina Sebut Rusia Kuasai Pembangkit Nuklir Zaporizhzhia
Mudik

News

Menhub Sebut Pelaksanaan Mudik Tahun Ini Berjalan Baik

News

Terapkan Ekonomi Kerthi, Bali Upayakan Penurunan Emisi Karbon
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com