Dilantik Jadi Sekda, Yani Tambah Daftar Kosong Kepala Dinas Pemkab HST Heboh Siswa Banjarmasin Diduga Tertular Covid-19, Disdik Turun Tangan Cuaca Kalsel Hari Ini: Tak Ada Peringatan Dini, Seluruh Wilayah Berpotensi Cerah Berawan Banjir Hantakan HST Rengut Nyawa Balita, Lebih Lima Desa Terendam Terungkap, Motif Pembunuhan 17 Agustus di Cempaka Banjarbaru
agustus

Sri Lanka Dihantam Badai Resesi, Apa Bedanya Resesi, Depresi dan Krisis?

Eko mencontohkan krisis yang dialami Sri Lanka sekarang sama seperti kejadian Indonesia di tahun 1998 yang juga mengalami krisis. Akibatnya, saat itu terjadi demonstrasi berskala besar dengan diikuti dengan penurunan perekonomian yang sangat tajam.
- Apahabar.com     Kamis, 21 Juli 2022 - 07:16 WITA

Sri Lanka Dihantam Badai Resesi, Apa Bedanya Resesi, Depresi dan Krisis?

Warga Sri Lanka melakukan demonstrasi dalam rangka menuntut Presiden Gotabaya Rajapaksa untuk segera mengundurkan diri. Foto: Reuters

apahabar.com, JAKARTA – Ekonom Institute Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listyanto mengungkapkan apa yang dialami oleh Sri Lanka saat ini lebih tepat untuk disebut sebagai krisis dibandingkan dengan resesi. Menurutnya, walaupun akhirnya terjadinya resesi bisa mengarah menuju krisis namun hal tersebut jarang terjadi

“Seperti yang sekarang dialami oleh Sri Lanka. Nah kalo resesinya terus berkepanjangan, nanti memang bisa menimbulkan situasi krisis ya bahkan krisis ekonomi,” ujarnya kepada apahabar.com, Rabu (20/7).

Menurut pria yang juga Wakil Direktur Eksekutif INDEF ini menyebut tidak ada definisi pakem tentang resesi. Namun, umumnya perekonomian bisa dikatakan mengalami resesi jika secara dua triwulan yang berarti enam bulan beruturut-turut mengalami pertumbuhan perekonomian dalam kondisi negatif. Kemudian untuk krisis, menurutnya bisa digambarkan saat keadaan perekonomian mengalami penurunan secara tajam dan dalam waktu yang jauh lebih singkat.

Eko mencontohkan krisis yang dialami Sri Lanka sekarang sama seperti kejadian Indonesia di tahun 1998 yang juga mengalami krisis. Akibatnya, saat itu terjadi demonstrasi berskala besar dengan diikuti dengan penurunan perekonomian yang sangat tajam.

“Seperti tahun 98 itu namanya krisis dan dalam satu periode ekonomi langsung anjlok. Langsung minusnya sampe 13 persen waktu itu namanya krisis jadi ini terminologi di ekonomi ada faktor kecepatan dan kedalaman dari keparahan situasi ekonomi,” Jelasnya.

Selain itu, tambah Eko, suatu negara juga dapat mengalami depresi yakni pertumbuhan ekonomi dalam kondisi negatif yang berlangsung selama kurun waktu lebih dari 2 tahun. Dibandingkan resesi yang mengalami pertumbuhan ekonomi secara negatif satu digit, depresi justru mengalami pertumbuhan ekonomi secara negatif dalam dua digit.

“Penurunannya terus, kemudian tingkat penganggurannya sampe 25 persen. Ya itu sudah situasinya sangat depresi tapi itu jarang terjadi,” pungkasnya.

Editor: Bethriq Kindy Arrazy - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Reshuffle

News

Kabar Reshuffle, 2 Menteri Bidang Ekonomi Mendadak Dipanggil Istana
MyPertamina

News

Beli Pertalite-Solar Gunakan Aplikasi MyPertamina Bakal Dibatasi
apahabar.com

News

Catat! Jangan Kurang Air Putih Ketika Sahur
Pasar Wadai Ramadan

News

‘Lampu Hijau’ Pasar Ramadan di Banjarmasin, dari Taman Kamboja hingga Banua Anyar

News

Jokowi Sebut Perang Rusia-Ukraina Bikin Harga BBM dan Gas Naik
Korupsi

News

KPK Siap Seret Tersangka Korupsi Heli AW-101 ke Meja Hijau

News

Fokus Balangan: Perluasan Pasar hingga Pinjaman Modal UMKM

News

Ade Armando Alami Pendarahan di Otak
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com