Besok, Dua Wakil Kalsel Siap Bertugas Jadi Anggota Paskibraka Nasional Selain Carens, Kendaraan Listrik Jadi Bintang Kia di GIIAS 2022 Kemenhub Terbitkan Empat Surat Edaran Syarat Perjalanan Terbaru Divonis 8 Tahun Penjara, Wahid Dibebaskan dari Ganti Rugi Rp26 Miliar  Apkasi Ajak Perusahaan Barang Jasa Rebut Peluang Pengadaan di Pemda Melalui APN 2022
agustus

Harga Minyak Dunia Melonjak, APBN Bengkak Menahan Subsidi BBM

- Apahabar.com     Rabu, 3 Agustus 2022 - 23:27 WITA

Harga Minyak Dunia Melonjak, APBN Bengkak Menahan Subsidi BBM

Harga minyak dunia naik. Foto: Ilustrasi Reuters

apahabar.com, JAKARTA – Krisis energi secara global mengakibatkan harga minyak dunia melonjak. Hal tersebut dikarenakan akan terganggunya pasokan yang diakibatkan dari serangan Rusia ke Ukraina. Terutama pasokan gas dan batubara dari Rusia ke zona negara terutama Eropa.

Direktur Eksekutif Indonesia Resources Study (IRES), Marwan Batubara mengatakan bila pasokan gas atau batubara terganggu, maka harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi naik. Hal tersebut juga berdampak kepada Indonesia dengan harus membayar devisa lebih mahal.

“Jadi saya baca pernyataan Menteri Keuangan bahwa untuk tahun ini, subsidi itu perlu sekitar Rp520 triliun. Di situ terkandung juga subsidi energi ada kompensasi untuk tahun lalu yang belum dibayar ke Pertamina,” ucap Marwan dalam diskusi publik secara daring, Rabu (3/8).

Marwan mengatakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 tercantum dalam asumsi harga minyak dunia sebesar USD 63 per berel. Berdasarkan jumlah tersebut, dalam lima bulam terakhir harga minyak dunia mencapai USD 90 per berel bahkan di atas USD 100 per barel. Akibatnya, APBN masih menanggung subsidi BBM yang terus mengalami kenaikan.

“Harga minyak dunia naik, harga batu bara naik, harga CPO ikut naik. Maka untuk bisa tetap menyediakan harga BBM yang terjangkau terutama untuk Indonesia, maka subsidinya harus ditambah,” terang Marwan.

Marwan juga menambahkan masalah harga BBM di dalam negeri sudah menjadi isu tahunan. Sebab, Indonesia bukan penghasil minyak yang mampu menutupi kebutuhan dalam negeri.

“Kita ini sudah menjadi negara importir dalam 20 tahun terakir, dan harga sudah berfluktuasi. Begitu harga naik, maka mau tidak mau subsidi harus ditambah atau harga BBM naik,” kata Marwan.

Marwan juga menyebutkan agar sebaiknya dapat dicarikan formula harga yang bisa berkelanjutan. Sebab, pengalaman kenaikan harga minyak bukanlah hal baru. Sebelumnya, juga pernah terjadi saat terjadi krisis keuangan hingga Perang Teluk.

“Sebagai negara importir kita akan mengalami kesulitan akibat harus ada devisa yang keluar untuk mengimpor BBM. Tapi sekaligus juga bisa membebani APBN kalau kita ingin tetap mempertahankan harga,” pungkasnya. (Resti)b

Editor: Bethriq Kindy Arrazy - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Hewan Banjarmasin

News

Instruksi Bupati Fikry: Setop Distribusi Sapi dan Kambing

News

Kremlin Ungkap Jokowi dan Putin Teleponan Bahas KTT G20, Ini Isinya
Vaksinasi Covid-19 di Lokasi Wisata Tanah Laut

News

Kemenag Kotabaru: Vaksin Saat Berpuasa, Jangan Ragu
JMSI

News

JMSI Kalsel Sebar Puluhan Paket Sembako Gratis Untuk Masyarakat Prasejahtera
Brigadir J

News

Mahfud soal Motif Pembunuhan Brigadir J: Hanya Boleh Didengar Orang Dewasa!

News

Dibuka! Pendaftaran Bakal Calon Ketua PWI Kalsel Masa Bakti 2022-2027

News

Fokus Modernisasi Koperasi Pangan, MenKopUKM Ajak Perempuan Berkoperasi
Yamaha fazzio

News

Senjata Yamaha Fazzio Bisa Laris Manis di Jakarta Fair 2022
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com