Mengenal Deretan Mobil yang Digunakan dalam Tragedi G30S PKI [Breaking News] Polri Tahan Putri Candrawathi Kecelakaan Maut di Sebamban Baru Tanbu, Truk Kontainer Timpa Pemotor Jarang Mencatat Laporan Keuangan, Jadi Penyebab UMKM Susah Naik Kelas BUMN Merugi, Siap-Siap Tak Terima Kucuran Dana PMN

Miris! Masyarakat Berpendapatan Rendah Sisihkan 10 Persen Biaya Belanja untuk Beli Rokok

- Apahabar.com     Rabu, 31 Agustus 2022 - 14:25 WITA

Miris! Masyarakat Berpendapatan Rendah Sisihkan 10 Persen Biaya Belanja untuk Beli Rokok

Ilustrasi merokok. Foto: ybkb.or.id

apahabar.com, JAKARTA – Masyarakat yang berpendapatan rendah cenderung menyisihkam 10 persen belanjanya untuk membeli rokok. Data tersebut disampaikan oleh lembaga penelitian Center for Indonesia’s Strategic Development Intiatives (CISDI).

Peneliti Lembaga Demografi FEB UI, I Dewa Gede Karma Wisana memaparkan, penelitian dibuat dengan mengelompokan penelitian yang dikategorikan berdasarkan tiga kelas pendapatan. Berdasarkan penelitian tersebut, hasilnya ditemukan bahwa kelompok masyarakat berpendapatan rendah, menyisihkan 10 persen belanjanya untuk membeli rokok.

“Kita lihat kategori rumah tangganya dari berpendapatan rendah, berpendapatan menengah dan berpendapatan tinggi. Kita lihat bahwa mereka yang berpendapatan rendah itu punya porsi atau pengeluaran share atau bagian dari belanja untuk tembakaunya cukup besar, yaitu 10 persen,” ujarnya, pada acara diskusi dan peluncuran hasil riset, di Jakarta, Selasa (30/8).

Berdasarkan dari total 10 rumah tangga yang diteliti, imbuh I Dewa Gede, sebanyak 6 rumah tangga memiliki belanja tembakau untuk keluarganya. Ia juga menyebut masyarakat yang memiliki pendapatan menengah. justru lebih tinggi porsi belanja tembakau dibandingkan berpendapatan tinggi dan rendah.

“Menarik kita lihat, untuk kelompok berpendapatan menengah itu porsinya sebesar 11,3 persen untuk belanja rokok. Kemudian, untuk berpendapatan tinggi itu justru hanya menempatkan porsi belanja rokok sebesar 9,3 persen,” tuturnya.

Penyisihan pendapatan untuk belanja rokok dilatarbelakangi oleh kepala keluarganya. Dewa menjelaskan bahwa kepala keluarga tersebut mayoritas adalah laki-laki perokok. Sehingga mereka memiliki kuasa penuh pada keuangan keluarga, dengan memakai wewenang tersebut untuk menempatkan porsi membeli rokok dalam belanja bulanan.

“Sehingga, mereka punya kekuasaan untuk memprioritaskan belanja konsumsi rokoknya baru yang lain dialokasikan terakhir,” kata Dewa.

Berkaitan dengan hal tersebut, dia menjelaskan bahwa dari data tahun 2011 sampai dengan 2021, jumlah perokok dewasa di Indonesia hanya turun sebesar 1,6 persen.

“Secara khusus kita lihat di Indonesia pada tahun 2021, Apabila dibandingkan dengan data tahun 2011 jumlah perokok dewasa itu masih sekitar 8,8 juta orang,” tutupnya.

Reporter: Gabid Hanafi

Editor: Bethriq Kindy Arrazy - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Yahya Cholil Staquf

News

Tahun Depan, PBNU Undang Ulama Sedunia Ikuti Muktamar Fikih Peradaban
Nabi Muhammad SAW

News

Amerika Serikat Kutuk Penghinaan Nabi Muhammad SAW di India

News

Jalan Becek-Jenazah Sulit Masuk, Tokoh Tanah Laut Rogoh Kocek Pribadi
DPRD DKI

News

DPRD DKI Jakarta Resmi Berhentikan Anies Baswedan Sebagai Gubernur Jakarta
Direktur Operasional PNM Sunar Basuki menyambut kedatangan delegasi CDRB Bank Tanzania. Foto: Dok PNM

News

Berniat Ekspansi Bisnis Keuangan Mikro, CDRB Bank Tanzania Studi Banding ke PNM  

News

Nasib Kombes Agus Patria Diputuskan Hari ini: Disinyalir Rusak TKP Hingga CCTV

News

Diversifikasi Ekonomi di Sektor Industri Kecil dan Menengah Dinilai Dapat Memulihkan Perekonomian Bali
Bjorka

News

Janggal Bjorka Madiun: Tak Ada Komputer, Hanya Jualan Es
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com