Rodney Goncalves; Pemain Barito Putera Harus Punya Rasa Marah dan Lapar Hasil MotoGP Jepang: Quartararo Melempem, Bagnaia Crash, Selisih Poin Semakin Menjauh Soal Konversi Kompor Gas ke Listrik, Begini Penjelasan ESDM Kalsel Kronologis Bocah 12 Tahun Ditemukan Meninggal Terseret Banjir Halong Balangan Peringati HUT ke-31, Perumda Paljaya Kampanyekan Sanitasi Aman Sembari Bersepeda Bersama

Harga Solar Bersubsidi Melambung, Nelayan di Tanah Laut Terancam Menganggur

- Apahabar.com     Senin, 5 September 2022 - 11:29 WITA

Harga Solar Bersubsidi Melambung, Nelayan di Tanah Laut Terancam Menganggur

Nelayan Tanah Laut mengeluhkan kenaikan harga solar bersubsidi, ketika stok masih terbatas. Foto: apahabar.com/Ali Chandra

apahabar.com, PELAIHARI – Kenaikan harga solar bersubsidi menjadi kabar buruk untuk nelayan kecil di Tanah Laut.

Pemerintah sudah memutuskan menaikkan harga solar bersubsidi dari Rp5.150 menjadi Rp6.800 per liter sejak 3 September 2022.

“Kenaikan itu otomatis membuat operasional nelayan bertambah. Di sisi lain, penghasilan mereka tidak sesuai dengan biaya operasional,” ungkap Plt Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tala, Alimuddin Aco, Senin (5/9).

“Makanya kami sangat menyayangkan keputusan pemerintah yang menaikkan harga solar bersubsidi, karena nelayan akan semakin susah,” imbuhnya.

Terlebih sebelumnya nelayan sudah menjerit akibat kesulitan mendapatkan solar bersubsidi. Seperti di Muara Kintap yang terdata memiliki 217 nelayan.

“Idealnya 217 kapal memperoleh satu ton per bulan. Faktanya pasokan yang tersedia hanya sekitar 30 persen,” beber Alimuddin.

“Selebihnya nelayan terpaksa membeli solar dari pedagang eceran. Tentunya dengan harga yang lebih tinggi hingga mencapai Rp16 ribu per liter,” imbuhnya.

Ironisnya kenaikan solar bersubsidi berbarengan dengan Pertalite. Biasanya kenaikan harga BBM ini juga memicu peningkatan banderol bahan pokok dan kebutuhan lain.

“Nelayan semakin tidak diuntungkan dan bahkan semakin sulit. Bukan hanya operasional melaut yang naik, semuanya naik termasuk biaya anak sekolah dan bahan pokok,” tukas Alimuddin.

Diharapkan setelah menaikkan harga, pemerintah juga dapat menjamin solar bersubsidi benar-benar sampai kepada nelayan.

Pemerintah juga diminta membuat kebijakan yang membuat SPBU Pertamina maupun AKR terdekat bisa memprioritaskan nelayan.

“Kalau tidak mendapatkan solar, sudah pasti nelayan tak akan melaut. Artinya mereka tak memperoleh pemasukan dan kebutuhan keluarga tersendat,” urai Alimuddin.

“Walaupun akan disalurkan bantuan langsung tunai, tampaknya tidak terlalu efektif. Penyebabnya tidak semua warga bisa mendapatkan bantuan ini,” tandas Alimuddin.

Editor: Bastian Alkaf - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Hot Borneo

Kebakaran Balikpapan, Api Masih Menyala hingga Dini Hari

Hot Borneo

Giatkan Baca Al-Quran, YN’S Center Harapkan Berkah di Bulan Ramadan 
Polres Kapuas

Hot Borneo

Puluhan Personel Polres Kapuas Naik Pangkat, Begini Pesan Kapolres
Kaltim

Hot Borneo

Kasus Covid-19 Cepat Naik, Gubernur Kaltim: Menurut Saya Ini Gelombang Terakhir

Hot Borneo

Jadi Korban Intimidasi Debtcollector, Warga Balikpapan Dianiaya & Diminta Bayar Rp100 Juta
RSUD Sultan Suriansyah

Hot Borneo

Kabar Baik dari RSUD Sultan Suriansyah di Hari Jadi Banjarmasin
sdn 2 semayap

Hot Borneo

SDN 2 Semayap di Kotabaru Kebanjiran, Aktivitas Belajar Diliburkan
Bayi Batu Benawa

Hot Borneo

Bayi di Bidan Beranak Batu Benawa HST, 2 Pria Misterius Diburu
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com