Mengenal Deretan Mobil yang Digunakan dalam Tragedi G30S PKI [Breaking News] Polri Tahan Putri Candrawathi Kecelakaan Maut di Sebamban Baru Tanbu, Truk Kontainer Timpa Pemotor Jarang Mencatat Laporan Keuangan, Jadi Penyebab UMKM Susah Naik Kelas BUMN Merugi, Siap-Siap Tak Terima Kucuran Dana PMN

Mengitari Bundaran HI: Ikon Ibukota yang Diduga Iluminati, Faktanya?

- Apahabar.com     Sabtu, 17 September 2022 - 07:05 WITA

Mengitari Bundaran HI: Ikon Ibukota yang Diduga Iluminati, Faktanya?

Bundaran HI (Foto: 99.co)

apahabar.com, JAKARTA – Sepasang ‘manusia perunggu’ melambaikan tangan, bak menyapa hangat para pengendara yang melintasi jantung ibu kota. Itulah Monumen Selamat Datang – buah pemikiran Presiden Soekarno, yang hingga kini masih bercokol kokoh di Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Monumen yang jadi ikon ibukota ini memacak patung berupa sepasang manusia yang sedang menggenggam bunga serta mengangkat tangannya. Patung tersebut menghadap ke utara atau ke arah Monumen Nasional.

Inisiasi Penyelubung Iluminati?

Bundaran HI pertama kali digagas oleh presiden pertama Indonesia, tatkala Asian Games IV hendak digelar di Jakarta pada 1962 silam. Zaenuddin HM dalam buku bertajuk 212 Asal-Usul Djakarta Tempo Doeloe (2012) menuturkan ide ini muncul dari sebuah obrolan santai.

Tiga tahun sebelumnya, atau pada 1959, Bung Karno tengah bercelatuk bersama sejumlah seniman di teras belakang Istana Negara. Salah satu tokoh yang hadir dalam bincang sore tersebut ialah Edhi Sunarso, pematung kebanggaan Indonesia yang memenangkan dua sayembara patung internasional di Inggris.

Kepada Edhie, Soekarno mengungkapkan bahwa dia ingin ada sebuah monumen yang dapat mewakili karakter bangsa Indonesia. Tentunya, untuk menyambut tamu yang bakal menghadiri Jakarta, sebagai tuan rumah Asian Games 1962.

“Tunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang ramah. Aku beri tugas kau buat patung itu,” demikian titah sang presiden. Edhie mengaku sempat tidak pede lantaran belum pernah membuat patung dari perunggu.

Akhirnya, jelang gelaran Asian Games dimulai, berdirilah patung berupa sepasang muda-mudi melambaikan tangan, serta menggenggam bunga dengan tangan satunya lagi. Monumen ini sengaja dibuat menghadap arah utara, sebagai simbol ‘menyambut orang-orang yang datang dari arah Monumen Nasional.’

Monumen Selamat Datang dikelilingi air mancur, dengan ruas jalan di luarnya berbentuk elips. Alhasil, bila dilihat dari atas, tampilannya nampak seperti sebuah mata. Atas dasar inilah, tidak sedikit masyarakat yang menilainya sebagai peninggalan Iluminati dan Freemason.

Bunderan yang sudah eksis sejak 1962 itu pun disebut-sebut menyimpan pesan terselubung dari Freemason, kelompok persaudaraan internasional yang dilarang Pemerintah Indonesia. Kelompok tersebut meyakini bahwa simbol mata satu dianggap sebagai ‘mata yang melihat segalanya.’

Mata Horus, Simbol Pesan dari Freemason

Bentuk Bundaran HI yang demikian disinyalir menyerupai Mata Horus, salah satu dewa dalam mitologi Mesir kuno yang juga mengilhami lahirnya Freemason. Horus sendiri merupakan anak Osiris dan Isis – dewa yang dihormati dalam tradisi Mesir.

Freemason meyakini Mata Horus sebagai simbol The All Seeing Eye atau ‘mata yang melihat segalanya.’ Mata satu ini dianggap sebagai cerminan kekuasaan yang mampu memberikan semangat, kebaikan, kebangkitan, dan kesejahteraan.

Salah seorang anggota Freemason, RIB Satrio Utomo, mengamini soal makna simbol tersebut. “Ada kesengajaan di sana. Kelompok Freemason menganut beberapa simbol, dan ketika mendesain apapun, kelompok Freemason akan masukan simbol itu,” ujarnya, dikutip dari metrotvnews.com, Jumat (16/9).

Satrio menjelaskan bahwa pembangunan Bundaran HI tak berselang lama setelah Freemason dibubarkan dan dilarang berafiliasi di Indonesia. Dia menduga, simbol tersebut sengaja dibuat lantaran masih banyak anggota Freemason yang tercatat sebagai pejabat di Indonesia.

Anggota Freemason, kata dia, masih banyak yang ingin berkontribusi terhadap perkembangan negeri ini. Sejalan dengan anggapan para pejabat lain, yang menilai kelompok itu justru mampu menghapus jurang pemisah antara kaum kolonial dan pribumi, di awal-awal masa pergerakan. (Nurisma)

Editor: Deasy Tirayoh - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Relax

Tak Terbendung! Fenomena Social Climber di Sekitar Anda, Cek Ciri-Cirinya

Relax

Telisik Hari Anak Nasional: Bu Kasur Ciptakan Dunia Bertabur ‘Balonku’, Sekarang Malah Galau
Pria Bawa Rombongan Besan 3.000 Orang

Relax

Wow! Viral Pengantin Pria Bawa Rombongan Besan 3.000 Orang Saat Acara Seserahan
Kisah Cinta Adik Jokowi dan Ketua MK, Kenalan Singkat dan Siap Menikah Mei 2022. Foto-Istimewa

Relax

Kisah Cinta Adik Jokowi dan Ketua MK, Kenalan Singkat dan Siap Menikah Mei 2022

Relax

Mengenal Kehidupan Ahli Jiwa dari Film ‘Smile’: Ini Perbedaan Psikolog dan Psikiater
Gading Marten dan Gempita Nora Marten. Foto-Istimewa

Relax

Gading Marten Diprotes Gempi Gegara Pakai Baju Ular Saat Touring Bersama The Prediksi

Relax

Tangis Haru Sisca Kohl Terima Lamaran Jess No Limit
Ayu Ting Ting

Relax

Ayu Ting Ting Dipolisikan, Buntut 3 Orang Meninggal di Karaokenya
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com