Hasil MotoGP Jepang: Quartararo Melempem, Bagnaia Crash, Selisih Poin Semakin Menjauh Soal Konversi Kompor Gas ke Listrik, Begini Penjelasan ESDM Kalsel Kronologis Bocah 12 Tahun Ditemukan Meninggal Terseret Banjir Halong Balangan Peringati HUT ke-31, Perumda Paljaya Kampanyekan Sanitasi Aman Sembari Bersepeda Bersama Tak Berhenti Mencoba, Muji Batola Sukses Tembus Babak 24 Besar Dangdut Adacemy 5

Survei: Imbas Kenaikan Harga BBM, Kepuasan Publik Terhadap Jokowi Merosot Tajam

penegakan hukum secara bersama-sama mengalami kemunduran. kepuasan publik terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) merosot.
- Apahabar.com     Minggu, 18 September 2022 - 22:18 WITA

Survei: Imbas Kenaikan Harga BBM, Kepuasan Publik Terhadap Jokowi Merosot Tajam

apahabar.com, JAKARTA – Hasil survei nasional dari lembaga Indikator Politik Indonesia terhadap keputusan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi telah dirilis. Hasilnya, kepuasan publik terhadap Presiden Joko Widodo (Jokowi) merosot hampir 10%.

“Tingkat kepuasan atas kinerja Presiden menurun cukup tajam, dari 72,3% menjadi 62,6%. Hal ini terutama karena persepsi warga terhadap kondisi perekonomian dan penegakan hukum secara bersama-sama mengalami kemunduran,” ungkap Indikator Politik Indonesia dalam paparan hasil surveinya, Minggu (18/9).

Jika dibandingkan dengan survei sebelumnya pada bulan Agustus 2022, angka ini menurun cukup drastis. Pada saat itu, kepuasan masyarakat berada di angka 72,3 persen.

“Jadi memang efeknya terhadap tren approval rating presiden cukup lumayan. Kurang lebih 10 persen dibandingkan survei bulan Agustus sebelum kenaikan harga BBM,” ujar Burhanuddin Muhtadi, Direktur Eksekutif Indikator Politik.

Burhanuddin menyebut langkah Presiden Jokowi yang menaikkan harga BBM di saat tingkat kepuasan publik terhadap Pemerintahan Jokowi tersebut sedang tinggi-tingginya.

Oleh karena itu, lanjut Burhanuddin kenaikan harga BBM yang diambil Pemerintah pada 3 September 2022 membuat tingkat kepuasan publik kepada Presiden Jokowi masih di atas ambang kewajaran.

“Pak Jokowi ini cukup cerdik dalam mengambil kebijakan yang tidak populer di saat approval rating-nya tinggi di bulan Agustus 72,3%, dampaknya itu setidaknya tidak sampai di bawah 50%. Karena kalau di bawah 50% itu alarming (menguatirkan), ini kan masih di atas 60%,” katanya.

Meskipun menurutnya penurun angkanya terbilang cukup lumayan besar, yaitu dari 72,3% hingga 62,6%.

Data survei mencatatkan, penolakan tentang kenaikan harga BBM itu datang dari kalangan perempuan, usia semakin muda, pendidikan menengah, pendapatan 3,5 juta rupiah ke bawah. Lalu ada kelompok pelajar, pegawai, wiraswasta dan ibu rumah tangga, orang pedesaan yang mengaku tidak puas atas kinerja Presiden Jokowi.

Dan ada juga basis pendukung pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo-Sandi pada kontestasi Pemilu 2019 yang lalu.

Menurut pengguna jenis BBM, terutama pada pengguna jenis Pertalite. Semakin sering menggunakan Pertalite maka semakin tinggi pula penolakannya.

Terakhir, terungkap bahwa mayoritas warga tetap lebih menginginkan subsidi dalam bentuk harga yang dapat dinikmati oleh seluruh warga (sebanyak 58,6%). Ketimbang subsidi tunai langsung (atau biasa disebut juga dengan bansos tunai) kepada kelompok yang kurang mampu (37,1%). (Foto: BS)

Editor: Pramirvan Aprillatu - Apahabar.com


Share :

Baca Juga

Fugo Hotel Banjarmasin

News

Gantikan Mercure, Fugo Hotel Banjarmasin Janjikan Konsep Berbeda

News

Menteri Basuki Targetkan Pembangunan Infrastruktur dapat Diselesaikan hingga Semester I 2024
G20 RI

News

Bicara Konflik Rusia-Ukraina, Ilmuan Italia: Putin Pemenangnya
biaya motor listrik

News

Pengeluaran Biaya Motor Listrik Relatif Lebih Murah Ketimbang Bensin, Kok Bisa?

News

Luapan Kekesalan Presiden Joko Widodo, Ketika Pensil Pun Masih Impor
Bulutangkis

News

8 Wakil Indonesia di Perempat Final Singapore Open 2022, Berikut Daftarnya
Polisi

News

Fenomena Polisi Tembak Polisi, IPW Minta Polri Asesmen Psikologi Ulang
pemakaman shinzo abe

News

Protes Rencana Pemakaman Shinzo Abe, Pria Jepang Nekat Bakar Diri
error: Dilarang copy paste artikel berita tanpa menyertakan link url : https://apahabar.com