apahabar.com, BANJARBARU - Inflasi di Kalimantan Selatan sepanjang Maret 2026 tercatat lebih terkendali dibandingkan bulan sebelumnya.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (7/4), posisi inflasi di Kalsel turun dari peringkat 5 menjadi 13 nasional.
Kepala Dinas Perdagangan Kalsel, Ahmad Bagiawan, menjelaskan penurunan peringkat inflasi tersebut merupakan hasil dari berbagai intervensi pemerintah daerah dalam menjaga stabilitas harga bahan pokok.
"Juga tidak lepas dari arahan Gubernur H Muhidin yang mendorong pelaksanaan berbagai langkah konkret di lapangan, termasuk penyelenggaraan pasar murah di seluruh kabupaten/kota," ungkap Bagiawan.
Kemudian upaya pengendalian inflasi juga dilakukan secara kolaboratif bersama berbagai pihak, mulai dari instansi vertikal hingga organisasi masyarakat, termasuk Polda Kalsel, Korem 101 Antasari dan BKOW.
Direncanakan kegiatan pasar murah akan kembali dilaksanakan di awal Mei 2026 sebagai bagian dari strategi lanjutan menekan inflasi. Selain Dinas Perdagangan, kegiatan ini juga melibatkan sejumlah perangkat daerah lain.
"Kami turun bersama Dinas Pertanian, Dinas Perkebunan, Dislautkan danBulog Kalsel," papar Bagiawan.
Meski secara umum inflasi mulai terkendali, terdapat lima kabupaten dan kota yang masih menjadi perhatian. Mulai dari Banjarmasin, Kotabaru, Tanah Laut, Hulu Sungai Tengah, dan Tabalong.
Salah satu penyebab inflasi di beberapa daerah tersebut adalah harga bahan pokok yang masih relatif tinggi dibandingkan wilayah lain. Seperti harga gula pasir yang seharusnya berada di kisaran Rp18.000 per kilogram, tetapi ditemukan dijual hingga Rp20.000 di Kotabaru.
Begitu pula harga cabai rawit yang di beberapa daerah telah mencapai Rp110.000 per kilogram.
"Kami menargetkan posisi inflasi daerah dapat terus membaik hingga berada di kelompok separuh terbaik secara nasional dalam beberapa bulan mendatang," tuntas Bagiawan.








