Histori

Pilunya Perbudakan Manusia yang Picu Mill Springs Berdarah

Lebih dari seabad silam, tepat tertanggal 19 Januari 1862, Mill Springs berubah menjadi lautan darah. Ini dipicu silang pendapat soal perbudakan manusia

Featured-Image
The Battle of Mill Springs, peristiwa berdarah yang dipicu masalah perbudakan manusia di AS (Foto: dok. Kentucky Wildlands)

apahabar.com, JAKARTA - Lebih dari seabad silam, tepat tertanggal 19 Januari 1862, Mill Springs berubah menjadi lautan darah. Di tempat yang letaknya tak jauh dari Kentucky ini, pecahlah perang saudara paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat.

The Battle of Mill Springs, begitu peristiwa tersebut dikenal, sedikitnya menewaskan 600 ribu serdadu. Pertempuran yang pecah sedari 1861 ini dilatarbelakangi silang pendapat antara negara bagian Utara dan Selatan.

Keduanya punya pandangan berbeda soal perbudakan yang kadung mengakar di Negeri Paman Sam sejak bertahun-tahun silam. Negara bagian Utara menentang keras praktik perbudakan, sementara negara bagian Selatan mendukungnya.

Roda Ekonomi di Atas Hak Asasi

Mereka yang mendukung perbudakan agaknya tak rela bila harus melepas praktik tersebut, yang notabene berhasil menggerakkan roda perekonomian sedari ratusan tahun lamanya. Perbudakan memanglah bukan barang baru di AS; praktik ini bermula pada Agustus 1619.

Kala itu, kapal swasta asal Inggris memboyong lebih dari 20 budak Afrika ke pelabuhan Virginia. Mereka bukannya pasrah begitu saja, David Richard dalam Shipboard Revolts, African Authority, and the Atlantic Slave Trade bahkan menyebut sempat terjadi pemberontakan.

Setidaknya terjadi 485 pemberontakan kecil di atas kapal yang tengah melintasi samudra menuju AS. Namun, apa boleh dikata, budak malang itu tak berdaya. Memberontak, pada akhirnya, hanya berujung meregang nyawa.

Mirisnya lagi, praktik ‘perdagangan’ budak yang demikian nyatanya tak terlepas dari campur tangan pemimpin Afrika. Mereka yang mestinya mengayomi, malah memprioritaskan urusan penanam modal dan pemimpin lainnya.

Ilegal, memang, tapi para pemimpin itu tak kehabisan akal untuk mengirim budak-budak ke luar negeri. Mereka ‘diekspor’ melalui The Slave Route alias Jalur Budak yang bermula dari sirkuit Atlantik di kota-kota pelabuhan.

Bristol, Nante, serta Salvador da Bahia sedikitnya adalah sejumlah sirkuit yang dibangun para investor untuk ‘memasarkan’ budak. Kapal di sana bisa memperoleh tawanan untuk memasok budak bagi perkebunan komersial, tambang, maupun pabrik di Amerika.

Di sisi lain, para pedagang dan pemimpin Afrika bertugas memindahkan tawanan dari hampir semua wilayah pedalaman ke pasar pesisir. Tahanan inilah yang nantinya bakal ditawarkan atau diperjualbelikan sebagai budak belian.

Setelah terjadi kesepakatan antara investor kulit putih dan pemimpin kulit hitam, para tawanan ini lantas diangkut dan bergabung dengan budak lainnya di Amerika. Sesampainya di Negeri Paman Sam, rombongan ini akan diperjualbelikan ke pasar-pasar sekunder.

Picu Perang Saudara paling Mematikan

Praktik perbudakan yang demikian, lambat laun, membuat negara bagian Utara meradang. Mereka ingin praktik itu dihapuskan, namun negara bagian Selatan bersikukuh untuk terus dilanggengkan, mengingat perbudakan sukses menggerakkan roda ekonomi.

Perbedaan perspektif itu lantas menyebabkan negara bagian Selatan memisahkan diri dari AS dan membentuk Konfederasi Amerika. Tekad mereka untuk melanggengkan perbudakan terus menguat, sampai akhirnya, pada 19 Januari 1862, dilancarkan sebuah serangan.

Kala itu, pasukan Konfederasi yang dipimpin Crittenden menyerang perwira Southern Unionist, George Henry Thomas, di Persimpangan Logan. Tanpa sepengetahuan Konfederasi, beberapa pasukan Union di bawah pimpinan Albin Schoepf tiba sebagai bala bantuan. 

Pertumpahan darah pun tak terelakkan. Beberapa serangan dari Konfederasi berhasil dipukul mundur dan membuat mereka keluar dari lapangan dalam retret yang berakhir di Murfreesboro, Tennessee.

Pasukan Konfederasi harus menelan pil pahit; mereka mengalami kekalahan pertama yang signifikan selama konflik berlangsung. Sementara itu, pertempuran ini menjadi kemenangan pertama untuk negara bagian Utara.

Editor
Komentar

Trending Posts

Lainnya